Bakung

7 03 2008

During Predictive Modelling class, I learn much about error and how to measure it. Moment ago, I measured that my error is enormously increasing after dark, and this is one amongst the result of it.

Bakung adalah satu dari sedikit bunga yang paling aku suka. Warna-warninya yang lugas, terkesan liar seperti refleksi tempat tumbuhnya, dan keanggunan kelopaknya, menjadi daya tarik kuat yang membuat siapapun bisa sangat memujanya. Bunga ini memang tidak menyiarkan semerbak wangi seperti melati, misalnya, tapi bunga ini juga tidaklah sekejam mawar dengan duri-duri tajamnya.

Bakung pertama yang aku lihat tumbuh liar di balik rimbunan perdu di pinggir sebuah anak sungai kecil. Bunganya yang cantik, tampak anggun menyembul di balik rerimbunan hijau dedaunan dan rumput liar; jelas terlihat berbeda dari bunga-bunga rumput. Kepik-kepik merah berbintik-bintik hitam senang sekali berdekat-dekat dengannya, entah apa yang dicari; mungkin hanya untuk mengagumi sang bunga, mungkin juga mengharapkan senyum manis tersembul dari kelopak warna-warni. Entahlah.

Mungkin sekarang memang sedang kemarau. Hujan sudah lama tidak turun, debu sudah terlalu sering berlarian di jalanan; segala kehidupan berteriak-teriak kehausan. Adakah hal ini juga dirasakan oleh sang bunga kesayanganku itu? Gurat-gurat coklat-hitam-layu berhimpun pada helai-helainya yang dulu hijau. Dedaunan kering meranggas tampak berguguran dan hanyut dilenakan oleh angin.

Entahlah. Aku sekarang malah sering melihat bunga bakung ini termenung berlama-lama di malam hari, dan menunduk lesu dan mengantuk di siang hari. Tak pernah lagi rona senyum tersungging di balik keelokan kelopak dan putik-putiknya. Bunga ini telah berubah; atau paling tidak sedang tidak pada kondisi terindahnya dan aku yakin itu bukan karena kemarau. Kenapa? Karena anak sungai kecil di bawahnya terus saja mengalirkan kesegaran, meski riaknya semakin kentara, menunjukkan semakin dangkalnya aliran air yang bisa ia hembuskan. Meski begitu, air yang tinggal semata kaki itu pastilah jauh lebih dari cukup jika hanya untuk membuat bunga bakung yang aku kagumi itu bermekaran dan sekadar memamerkan sedikit eloknya.

Malam-malam; dini hari, bahkan; aku putuskan untuk menggali dalam-dalam, dan memindahkan sang bunga ke dalam pot tembaga. Pupuk terbaik, air terbaik, perawatan terbaik yang aku bisa, kuberikan padanya. Kuletakkan sang bunga di sudut kamar, supaya setiap saat aku bisa merawat dan mengamatinya, ataupun sekadar menghalau serangga-serangga pengganggu.

Sehari. Dua hari. Seminggu. Sekian hari berlalu. Bukan bunga bermekaran, tapi malah dedaunan yang berguguran yang aku temukan. Lusuh layu sang bakung membuatku bersedih, tapi juga berfikir. Semalaman aku berfikir dan berfikir. Adakah sinar mentari yang selalu menerobos celah jendela itu tidak cukup menghangatkan sang bakung? Adakah pupuk yang kuberikan kurang menyenangkan sang bakung? Adakah tetes demi tetes air yang kusiramkan malah menjengkelkan sang bakung? Atau yang paling mendasar, adakah kesedihan sedang dialami sang bakung?

Akhirnya aku sadar; bunga bakung lebih berbahagia untuk bersendau gurau dengan rumput liar, berlarian dan tertawa riang bersama anak-anak gembala, dan merenung berlama-lama ditemani kepik-kepik merah berbintik hitam. Kini bunga bakung sedang bersedih, tapi itu tidak akan lama. Besok atau lusa semua pasti akan berganti, semua pasti akan kembali seperti sedia kala, ketika merah-biru-muda bermekaran di tengah rimbunan hijau kehidupan.

Pagi-pagi benar aku pindahkan sang bunga bakung ke tempatnya sedia kala, tepat di lubang menganga yang aku gali dua-tiga hari lalu, tepat di samping jembatan kayu mahoni yang entah sudah sejak kapan ada di situ. Sejumput pupuk yang tersisa aku taburkan di dekat pangkal batangnya. Dengan tangan menengadah, aku coba cedok sedikit air dari anak sungai untuk membasahi tanah di sekitar sang bakung. Aku pejamkan mata sejenak, berdoa sekenanya, dan berharap besok ketika aku datang lagi kemari, ada setangkai bunga bakung biru muda dengan gurat-gurat ungu yang mekar. Kalaupun bukan besok, semoga lusa, atau setelah lusa, atau minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan, atau sepuluh tahun lagi, atau kapanpun itu. Yang pasti, aku berharap bunga bakung itu bisa tersenyum lagi, meski aku tahu, bunga itu tak akan bisa menghiasi sudut kamarku.

Advertisements

Actions

Information

2 responses

10 03 2008
ganda

Sama seperti kita…, hanya mampu tumbuh indah di komunitas tertentu. Saat berpindah ke komunitas lain, pilihannya cuma 2:
-kalah dan kehilangan keindahan, atau
-menyerah dan berubah menjadi pribadi yang lain
Exceptional sekali jika ada yang mampu bertahan.
anyway, bakung tu seperti apa ya bentuknya????? :p

10 03 2008
Frans

Hihi.. Ganda, thanks for the comment.. aku baca jadi ikut bingung, tapi you’re absolutely rite…
Bakung tuh taneman yang biasa ditemukan di sungai2 dan sungai kecil di pedesaan di Indonesia.. banyak banget.. meski bunganya bagus.. (I think) tapi tidak ada yang jual sebagai hiasan, karena bakung itu ada dimana2 … dan kurang populer untuk digunakan sebagai hiasan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: