Bakung

7 03 2008

During Predictive Modelling class, I learn much about error and how to measure it. Moment ago, I measured that my error is enormously increasing after dark, and this is one amongst the result of it.

Bakung adalah satu dari sedikit bunga yang paling aku suka. Warna-warninya yang lugas, terkesan liar seperti refleksi tempat tumbuhnya, dan keanggunan kelopaknya, menjadi daya tarik kuat yang membuat siapapun bisa sangat memujanya. Bunga ini memang tidak menyiarkan semerbak wangi seperti melati, misalnya, tapi bunga ini juga tidaklah sekejam mawar dengan duri-duri tajamnya.

Bakung pertama yang aku lihat tumbuh liar di balik rimbunan perdu di pinggir sebuah anak sungai kecil. Bunganya yang cantik, tampak anggun menyembul di balik rerimbunan hijau dedaunan dan rumput liar; jelas terlihat berbeda dari bunga-bunga rumput. Kepik-kepik merah berbintik-bintik hitam senang sekali berdekat-dekat dengannya, entah apa yang dicari; mungkin hanya untuk mengagumi sang bunga, mungkin juga mengharapkan senyum manis tersembul dari kelopak warna-warni. Entahlah. Read the rest of this entry »